Mendidik Anak Tanpa Banyak Syarat

 

imag1284

Tokoecerhargagrosir.com , 10 November 2016 Waduh saya sebenarnya gak enak juga nih copas cerita dari share wats up yang dikirimkan oleh seorang kawan. Sepertinya artikel ini didapat dari blognya Adhitya Mulya – mohon ijin om Adhitya Mulya saya menyalin kembali di sini.

Karena menurut saya cerita ini bagus dan menerangkan bagaimana cara mendidik anak tanpa banyak Syarat

Udah lah gak usah banyak basa basi, kaya orang bener aja, langsung dah menyusur ke TKP … 🙂

Generasi Sebelumnya.

Ada seorang Operation Manager dari sebuah client kantor gue – yang cool banget. Kita undang dia makan siang dan gak taunya nasinya keras. Kita sebagai vedor yang baik meminta maaf.

Dia bilang, ” Gak papa justru saya suka nasi keras. Gak suka tuh saya, beras sushi.”.

” Kok sukanya nasi yang keras Pak ?” I cannot help but to ask.

” iya, orang tua saya ngajarin jangan pernah buang makanan. Nasi kemarin juga kita makan.”

This may be simple. but this, blew my mind.

Dan setelah gue menjadi orang tua, disinilah gue lihat banyak orang tua mulai mengambil langkah yang tidak disadari berdampak pada perkembangan mental anak.

” Saya waktu kecil, miskin. Saya pastikan anak – anak saya mendapatkan yang terbaik, termahal”.

” Waktu kecil, saya makan aja susah. Saya pastikan mereka itu sekarang makan enak.”

” Waktu kecil, saya belajar  ditemani lilin dan 2 buku. Sekarang anak saya, saya sekolahkan ke Inggris.”

We experienced the worst and therefore we tend the give the best .

The question is, is the best….is what our children need? Really ?

Orang sukses itu menjadi sukses karena (1) Dididik dengan benar, terlepas dari apakah dia kaya atau miskin. (2) Dididik oleh kesulitan yang dia hadapi.

Kita akui ada anak orang kaya yang tetep jempol attitudenya dan perjuangannya. Tapi bisa kita lihat kebanyakan orang sukses juga dulunya sulit. Kesulitan ( Dalam beberapa kasus kemiskinan ) itu yang menjadi drive orang – orang untuk menjadi sukses. Ini adalah resep yang nyata. Kesulitan yang orang – orang sukses ini hadapi adalah ladang ujian dimana mereka menempa  diri mereka menjadi orang sukses.

Pertanyaaanya, Jika kita ingin mencetak  anak – anak yang bermental baja, kenapa kita justru memberikan semua kemudahan ? Kenapa justru menghilangkan semua kesulitan itu ?

Karena dengan menghilangkan kesulitan – kesulitan itu, justru kita menciptakan generasi yang syarat hidupnya banyak.

Generasi berikutnya.

Apa yang terjadi dengan dari hasil thinking frame ‘ dulu saya susah, saya tidak ingin anak saya susah’

Lalu ini yang terjadi :

Anak dari anak temen ibu gue terbiasa makan beras impor Thailand. Di tahun 98, kita terkena krisis dan orang tuanya tidak lagi mampu beli beras impor. Yang terjadi adalah anaknya gak bisa makan.

Ada anak dari temen yang terbiasa makan es krim haagen daz, ketika pertama kali makan es krim lokal, dia muntah.

Ada cucu yang ngamuk dirumah neneknya karena dirumah nenek , tidak ada air panas dan tidak ada AC.

Gue gak mencibir mereka. Apa adanya seorang manusia itu terjadi dari nature dan nurture. Semua ini adalah nurture.

Bahkan dikantorpun sama. Dikantor kebetulan gue jadi seorang mentor seseorang ( saat ini ). Dalam sebuah kesempatan, dia pernah berkata,” Duh, gak nyaman di posisi ini.”

Di lain kesempatan, “Sayang ya, si X resign, padahal dia membuat saya nyaman di kantor sini.”

Pada kali kedua gue mendengar mentor gue ngomong ini, gue mulai masuk “Kamu sadar gak, kamu udah 2 kali menggarisbawahi bahwa kenyamanan dalam kerja itu, penting bagi kamu.”

Emang sih idealnya nyaman. Tapi sayangnya, this is life. We don’t get to pick ideal situations. Sometimes we need to settle with what we have and deal with it.

Tentang kenyamanan, coba jadikan itu sebagai sesuatu yang ‘nice to have’ dan bukan ‘must have’.”

What to Do?

Gue menyukai cara Sultan Jogja mendidik anak-anaknya. Gue pernah dengar bahwa di saat batita, anak sultan dikirim untuk hidup di desa. Makan susah, main tanah, mandi di sumur. Intinya, meski dia anak sultan, dia tidak tahu bahwa dia anak sultan dan dia merasakan standar hidup yang rendah – dan merasa cukup dengan itu. Setelah agak besar, dia kembali ke istana. Dampaknya, semua Sultan, bersikap merakyat. Dia makan steak, tapi dia tahu bahwa steak yang dia makan adalah sebuah kemewahan. Bukan sebuah syarat hidup minimum.

Gue pun memiliki syarat-syarat hidup. Semenjak menjadi seorang bapak, gue berubah total dan gue kikis hilang itu semua. Karena gue tidak ingin anak-anak gue memiliki syarat hidup yang banyak. Dan satu-satunya cara memastikan itu terjadi adalah bahwa gue pun tidak boleh memiliki syarat hidup banyak.

Gue memilih untuk mengajak mereka naik kopaja atau transjakarta setiap hari ke sekolah, sebelum mereka merasakan bahwa naik angkutan umum itu, rendah. Tidak ada salahnya naik mercy ke sekolah. Sama dengan tidak ada salahnya naik kopaja (tentunya gue ikut nemenin)

Gue memilih untuk membiarkan mereka tidur di lantai (ketika mereka tidak sengaja terlelap tidur. Gue tidak lantas mengangkat mereka ke dalam kamar mereka). Siapa tahu suatu saat nanti mereka harus terus-terusan tidur di lantai ketika merantau di negeri orang.

Gue memilih untuk mematikan AC saat mereka tidur – siapa tahu mereka suatu saat cannot afford air conditioning.

Gue memilih untuk tidak menginstall air panas karena gue ingin anak-anak gue baik-baik saja jika suatu saat nanti mereka tiap hari harus mandi air dingin. (meski tidak ada yang salah dengan mandi air panas).

Gue memilih untuk melarang mereka main tablet karena gue ingin mereka tidak tergantung dengan kemewahan itu.

Gue melarang mereka menilai teman dari merek mobil mereka karena merek mobil itu gak pernah penting, dan gak akan penting.

Kita pergi ke mall memakai kopaja. And we have fun ketawa-ketawa, seperti jutaan orang lain.

Gue tidak membuang nasi kemarin yang memang masih bagus. Instead gue makan sama anak-anak gue. Siapa tahu suatu saat, that is all they can afford. Agak keras. And we like it.

We teach them to pursue happiness so that they learn the VALUE and PURPOSES of things. Not the PRICE of things.

Nasi kemarin yang masih perfectly safe to eat, masih punya value. Kopaja dan mercy memiliki purpose yang sama, yaitu mengantar kita ke sebuah tempat.

AC atau gak AC memberikan value yang sama. A good night sleep.

Kenapa semua ini penting? Kita harus ingat bahwa generasi bapak kita adalah generasi yang bersaing dengan 3 milyar orang. Mereka bisa mengumpulkan kekayaan dan membeli kemudahan untuk generasi kita. Kita harus bersaing dengan 7 milyar orang. Anak kita nanti mungkin harus bersaing dengan 12 milyar orang di generasi mereka.

One needs to be *beep* tough person to be able to compete with 12 billion people. Dan percaya lah, memiliki syarat hidup yang banyak, tidak akan membantu anak-anak kita bersaing dengan 12 milyar orang itu.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s